Kamus Wanita – Isu-isu Gender

  1. Body autonomy: Hak wanita untuk mengontrol dan membuat keputusan tentang tubuh mereka sendiri, termasuk akses pada kontrasepsi dan aborsi.
  2. Body positivity: Gerakan untuk menerima dan mencintai tubuhnya sendiri tanpa memperhatikan standar kecantikan yang ditetapkan oleh masyarakat.
  3. Body shaming: Perlakuan atau komentar negatif terhadap bentuk atau penampilan fisik wanita.
  4. Consent: Persetujuan yang jelas dan sukarela dari seorang wanita untuk terlibat dalam aktivitas s#e#k#sual atau hubungan intim.
  5. Domestic violence: Kekerasan yang dilakukan dalam hubungan domestik terhadap pasangan atau anggota keluarga, sering kali wanita menjadi korban.
  6. Empowerment: Pemberdayaan wanita melalui akses pada pendidikan, kesempatan pekerjaan, dan kontrol atas hidup mereka.
  7. Female entrepreneurship: Inisiatif dan usaha yang dilakukan oleh wanita untuk menciptakan, mengelola, dan mengembangkan bisnis.
  8. Female genital mutilation (FGM): Praktik tradisional pemotongan atau modifikasi genital wanita yang menyebabkan cedera fisik dan emosional serius.
  9. Female leadership: Kepemimpinan oleh wanita dalam berbagai sektor dan tingkatan organisasi.
  10. Female representation: Tingkat kehadiran dan partisipasi wanita dalam berbagai bidang, seperti politik, bisnis, dan media.
  11. Feminisme: Gerakan sosial dan politik yang berjuang untuk kesetaraan gender antara wanita dan pria.
  12. Gender equality: Prinsip kesetaraan hak, kesempatan, dan perlakuan yang sama antara wanita dan pria di berbagai bidang kehidupan.
  13. Gender equity: Prinsip kesetaraan akses, kesempatan, dan hasil bagi wanita dan pria dalam berbagai aspek kehidupan.
  14. Gender gap: Perbedaan yang signifikan dalam hal akses, kesempatan, dan perlakuan antara wanita dan pria.
  15. Gender identity: Identitas pribadi dan internal seseorang tentang apakah dia merasa sebagai wanita, pria, atau mungkin identitas gender lainnya yang tidak sesuai dengan jenis kelamin biologisnya.
  16. Gender mainstreaming: Pendekatan yang memasukkan perspektif gender dalam perencanaan dan pelaksanaan kebijakan serta program untuk mencapai kesetaraan gender.
  17. Gender non-conforming: Istilah yang merujuk pada orang yang tidak mengidentifikasi diri dengan norma-norma gender yang ditetapkan oleh masyarakat.
  18. Gender pay gap: Perbedaan gaji rata-rata antara pria dan wanita yang melakukan pekerjaan sejenis.
  19. Gender roles: Peran-peran sosial yang dianggap khas atau diharapkan dari wanita dan pria dalam masyarakat.
  20. Gender socialization: Proses di mana norma-norma gender dan peran sosial dipahami, dipelajari, dan ditiru oleh anggota masyarakat, termasuk wanita.
  21. Gender stereotype: Pandangan umum atau klise yang melekat pada wanita berdasarkan jenis kelamin mereka.
  22. Gender-based discrimination: Perlakuan tidak adil atau diskriminatif terhadap seseorang berdasarkan jenis kelamin mereka.
  23. Gender-based violence: Kekerasan atau penindasan yang berbasis pada jenis kelamin, seringkali menargetkan wanita dan perempuan.
  24. Gender-responsive budgeting: Pendekatan anggaran yang mempertimbangkan dampak perencanaan dan alokasi dana terhadap kesetaraan gender.
  25. Gender: Peran dan identitas sosial yang ditentukan oleh masyarakat untuk wanita dan pria.
  26. Glass ceiling: Hambatan tak kasatmata yang mencegah wanita mencapai posisi puncak dalam karier.
  27. Intersectional feminism: Pendekatan feminisme yang mempertimbangkan sekaligus memperjuangkan isu-isu kesetaraan berdasarkan persilangan identitas seperti ras, kelas sosial, agama, dan orientasi s#e#k#sual.
  28. Intersectionality: Pendekatan yang mempertimbangkan berbagai aspek identitas seseorang, seperti ras, kelas sosial, dan orientasi s#e#k#sual, dalam menghadapi diskriminasi dan ketidaksetaraan.
  29. Mansplaining: Tindakan pria yang merendahkan dengan cara menjelaskan hal yang sebenarnya sudah diketahui wanita.
  30. Maternal mortality: Angka kematian ibu akibat komplikasi saat hamil, melahirkan, atau pasca melahirkan.
  31. Maternity leave: Cuti yang diambil oleh wanita dari pekerjaan mereka setelah melahirkan untuk merawat bayi mereka.
  32. Menstrual hygiene: Kebersihan dan perawatan selama menstruasi untuk menjaga kesehatan dan kenyamanan wanita.
  33. Misogini: Sikap atau pandangan yang mendiskriminasi atau membenci wanita.
  34. Motherhood penalty: Penurunan potensi karier atau diskriminasi yang dihadapi wanita setelah menjadi ibu.
  35. Patriarki: Sistem sosial yang memberikan kekuasaan dominan kepada laki-laki dan merendahkan peran wanita.
  36. R#a#p#e culture: Budaya yang cenderung mengaburkan atau melegitimasi tindakan pemerkosaan dan menyalahkan korban daripada pelaku.
  37. Reproductive healthcare: Layanan kesehatan yang berkaitan dengan reproduksi, seperti konsultasi kesehatan reproduksi, kontrasepsi, pemeriksaan kehamilan, dan layanan kebidanan.
  38. Reproductive justice: Konsep yang menggabungkan isu-isu kesehatan reproduksi, sosial, dan ekonomi untuk mencapai kesetaraan akses dan pilihan bagi wanita dalam mengelola tubuh dan kehidupan reproduksi mereka.
  39. Reproductive rights: Hak wanita untuk mengendalikan dan membuat keputusan tentang tubuh dan kesehatan reproduksi mereka.
  40. Reproduksi: Proses fisik dan biologis melahirkan dan membesarkan anak.
  41. Se#x#i#sm: Diskriminasi atau perlakuan tidak adil terhadap seseorang berdasarkan jenis kelamin mereka, terutama merugikan wanita.
  42. Single mother: Seorang wanita yang membesarkan anak-anaknya tanpa bantuan seorang pasangan.
  43. Slut-shaming: Menghakimi dan mencela wanita karena perilaku s#e#k#sualnya yang dianggap tidak sesuai norma.
  44. Stereotip: Pandangan atau keyakinan umum yang tidak akurat tentang peran atau sifat khas wanita.
  45. Victim blaming: Praktik menyalahkan korban atas tindakan kejahatan atau kekerasan yang mereka alami, termasuk dalam kasus kekerasan s#e#k#sual terhadap wanita.
  46. Women in STEM: Upaya untuk meningkatkan partisipasi dan peran wanita dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, teknik, dan matematika.
  47. Women’s advocacy: Advokasi dan upaya untuk memperjuangkan hak dan kesejahteraan wanita dalam masyarakat.
  48. Women’s education: Akses, kesempatan, dan pemberdayaan wanita melalui pendidikan formal dan informal.
  49. Women’s empowerment: Pemberdayaan wanita melalui dukungan, pendidikan, dan kesempatan untuk meningkatkan status sosial dan ekonomi mereka.
  50. Women’s entrepreneurship: Usaha dan kegiatan yang dilakukan oleh wanita untuk memulai, mengembangkan, dan mengelola bisnis mereka sendiri.
  51. Women’s health: Kesehatan fisik, mental, dan emosional yang berkaitan khusus dengan wanita.
  52. Women’s participation: Partisipasi aktif wanita dalam berbagai bidang seperti politik, ekonomi, pendidikan, dan sosial.
  53. Women’s rights activism: Aktivitas dan gerakan yang dilakukan oleh individu atau kelompok untuk memperjuangkan hak-hak wanita dan mencapai kesetaraan gender.
  54. Women’s rights treaties: Perjanjian internasional yang melindungi dan memperjuangkan hak-hak wanita di berbagai negara.
  55. Women’s rights: Hak-hak yang diakui dan dijamin bagi wanita untuk mencapai kesetaraan sosial, politik, dan ekonomi.
  56. Women’s safety: Keamanan fisik, emosional, dan sosial yang penting bagi wanita untuk melindungi diri dari berbagai bentuk kekerasan dan pelecehan.
  57. Women’s shelters: Tempat perlindungan dan tempat tinggal sementara bagi wanita yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga atau pelecehan.
  58. Women’s suffrage: Perjuangan untuk mendapatkan hak suara bagi wanita dalam pemilihan umum.
  59. Work-life balance: Upaya mencapai keseimbangan antara kehidupan profesional dan pribadi bagi wanita yang bekerja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *