Glosarium Hikikomori (Kamus Hikikomori)

  1. Hikikomori: Sebuah fenomena sosial di Jepang di mana individu menarik diri dari masyarakat dan mengisolasi diri mereka dalam ruangan untuk jangka waktu yang lama, umumnya berbulan-bulan atau bertahun-tahun.
  2. NEET (Not in Education, Employment, or Training): Merujuk pada individu yang tidak bersekolah, tidak bekerja, dan tidak menjalani pelatihan atau pendidikan lainnya. Istilah ini sering dikaitkan dengan hikikomori.
  3. Tadoku: Praktik membaca secara intensif dan terus-menerus sebagai bentuk pengalihan yang dilakukan oleh individu hikikomori.
  4. Futoko: Sebuah istilah yang menggambarkan perilaku anak-anak atau remaja yang menolak pergi ke sekolah dan enggan menerima pendidikan formal. Glosarium.org
  5. Freeter: Seorang pekerja paruh waktu atau pekerja lepas yang tidak memiliki pekerjaan tetap atau komitmen jangka panjang. Banyak hikikomori menjadi freeter karena mereka tidak ingin terikat pada pekerjaan atau tanggung jawab sosial.
  6. Ijime: Penganiayaan atau intimidasi yang dilakukan oleh rekan sebaya atau kelompok tertentu terhadap seseorang. Ijime dapat menjadi pemicu bagi seseorang untuk menjadi hikikomori.
  7. Hikikomori no Jikan: Terjemahan harfiahnya adalah “waktu hikikomori”. Istilah ini mengacu pada periode waktu di mana seseorang mengalami hikikomori, biasanya dalam jangka waktu yang lama.
  8. Hikikomori-ron: Istilah ini merujuk pada studi atau penelitian tentang fenomena hikikomori dan upaya untuk memahami penyebab dan dampaknya dalam konteks sosial.
  9. Social Withdrawal: Istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku individu yang menarik diri dari interaksi sosial dan menghindari kontak dengan orang lain.
  10. Isolation Room: Ruangan di mana seorang hikikomori menghabiskan sebagian besar waktunya. Ruangan ini sering kali menjadi tempat perlindungan dan tempat mereka untuk menghindari dunia luar.
  11. Hikikomori Parent: Orangtua yang memiliki anak hikikomori. Istilah ini digunakan untuk menggambarkan pengalaman dan tantangan yang dihadapi oleh orangtua yang memiliki anak yang mengalami hikikomori.
  12. Hikikomori Support Group: Kelompok atau komunitas yang didirikan untuk memberikan dukungan, bantuan, dan pemahaman kepada individu dan keluarga yang terkena dampak hikikomori. Kelompok ini bertujuan untuk memberikan tempat berbagi pengalaman, saran, dan dukungan emosional.
  13. Hikikomori Rehabilitation: Proses atau upaya untuk membantu individu yang mengalami hikikomori untuk kembali ke masyarakat. Ini melibatkan pendekatan terapi, dukungan psikologis, dan reintegrasi sosial.
  14. Hikikomori Syndrome: Istilah yang digunakan untuk menggambarkan berbagai gejala dan kondisi fisik serta mental yang dialami oleh individu hikikomori. Gejala ini meliputi gangguan kecemasan, depresi, isolasi sosial, dan kesulitan beradaptasi dengan masyarakat. Glosarium.org
  15. Hikikomori Generation: Generasi muda yang lebih rentan terhadap fenomena hikikomori. Istilah ini digunakan untuk merujuk pada individu muda yang lebih sering mengalami isolasi sosial dan menarik diri dari masyarakat.
  16. Hikikomori Prevention: Upaya dan program yang ditujukan untuk mencegah terjadinya hikikomori. Ini melibatkan pendidikan, dukungan keluarga, pemahaman masyarakat, dan penanganan masalah psikologis secara dini.
  17. Hikikomori Recovery: Proses pemulihan dan reintegrasi sosial bagi individu yang telah mengalami hikikomori. Ini melibatkan langkah-langkah untuk membangun kembali kepercayaan diri, keterampilan sosial, dan dukungan yang berkelanjutan.
  18. Hikikomori Stigma: Stigma atau diskriminasi yang dialami oleh individu yang mengalami hikikomori atau keluarga mereka. Stigma ini dapat memperburuk isolasi sosial dan menyulitkan proses pemulihan.
  19. Hikikomori Documentary: Film atau dokumenter yang mengangkat fenomena hikikomori, baik sebagai bentuk pemahaman dan penyadaran masyarakat maupun untuk memberikan wawasan tentang pengalaman individu yang mengalaminya.
  20. Hikikomori Intervention: Upaya yang dilakukan oleh pihak lain, seperti keluarga, teman, atau profesional kesehatan mental, untuk membantu individu yang mengalami hikikomori melalui pendekatan terapi, dukungan, dan perencanaan reintegrasi sosial.

Semoga membantu!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *