Daftar Istilah Hobi Tanaman Bonsai

  1. Akadama: Media tanam pori-pori besar yang berasal dari tanah vulkanik, digunakan untuk memfasilitasi drainase dalam bonsai.
  2. Bankirai: Jenis kayu keras yang sering digunakan untuk pot bonsai karena tahan lama dan tahan terhadap cuaca.
  3. Bonkei: Seni menciptakan pemandangan miniatur yang mencakup tanaman, batu, dan elemen alam lainnya dalam wadah dangkal.
  4. Bonsai Kai: Kelompok pecinta bonsai atau klub bonsai.
  5. Bonsai Kokufu-ten: Salah satu pameran bonsai terbesar di Jepang yang diadakan setiap tahun di Tokyo, menampilkan bonsai-bonsai terbaik dari seluruh dunia.
  6. Bonsai Sakka: Istilah untuk seniman atau pengrajin bonsai yang ahli dalam menciptakan dan merawat bonsai.
  7. Bonsai Sankan: Gaya bonsai yang terdiri dari tiga pohon yang ditanam bersama dalam satu pot, mewakili tiga tahap kehidupan pohon: masa muda, dewasa, dan tua.
  8. Bonsai Shohin: Bonsai dalam ukuran kecil (sekitar 15-20 cm) yang biasanya ditempatkan pada dasar panggung (daiza) untuk ditampilkan dalam pameran.
  9. Bonsai-ka: Proses menciptakan bonsai melalui pemangkasan, pengikatan akar, dan perawatan secara keseluruhan.
  10. Bonsai: Seni menciptakan pohon miniatur yang ditanam dalam pot kecil dan dibentuk melalui pemangkasan dan perawatan khusus.
  11. Bunjin: Gaya bonsai yang menggambarkan pohon-pohon berbatang panjang dan ramping, menciptakan kesan pohon yang tumbuh di daerah berangin.
  12. Chokkan: Gaya bonsai dengan bentang lurus dan tegak, menggambarkan pohon yang tumbuh tegak ke atas dengan cabang yang tersebar merata di sepanjang batang.
  13. Chuhin: Kategori bonsai berukuran sedang, memiliki tinggi sekitar 20 hingga 35 cm.
  14. Fuki-ishi: Batu-batuan kecil yang ditempatkan di sekitar akar bonsai untuk menciptakan kesan pohon yang berada di lingkungan alaminya.
  15. Hachi-uye: Bonsai yang ditanam dalam pot yang terbuat dari keramik atau bahan tanah liat.
  16. Han-Kengai Bonsai: Jenis bonsai setengah miring dengan batang yang memanjang ke bawah, namun tidak sampai menyentuh tanah.
  17. Han-Kengai: Gaya bonsai setengah miring, di mana batang utama condong secara moderat, tidak sejajar dengan permukaan tanah.
  18. Heikin: Gaya bonsai dengan batang yang condong atau miring, namun tidak securam Kengai (miring). Glosarium.org
  19. Ikadabuki: Gaya bonsai dengan bentuk cabang yang menyebar seperti payung, menghasilkan tampilan yang rimbun dan luas.
  20. Jari: Pemangkasan akar yang dilakukan secara periodik untuk menjaga ukuran akar agar sesuai dengan ukuran pot dan menghindari keterlambatan pertumbuhan.
  21. Jin: Efek visual dari cabang atau batang yang mati yang diawetkan dengan bantuan teknik pemangkasan dan pemberian senyawa tertentu untuk memberi kesan pohon yang lebih tua dan alami.
  22. Jinashi: Metode pemangkasan yang dilakukan tanpa menggunakan alat kawat, lebih mengandalkan pemangkasan dan pemeliharaan akar.
  23. Kabudachi: Gaya bonsai dengan beberapa pohon yang berakar di dalam satu pot, membentuk tampilan yang indah dan kompleks.
  24. Kanuma: Jenis tanah asam yang sering digunakan dalam bonsai, terutama untuk azalea.
  25. Kengai Hanare: Gaya bonsai kengai (miring) dengan cabang utama yang menonjol bebas, tanpa menyentuh tanah.
  26. Kengai-Morikawa: Gaya bonsai dengan batang utama yang tumbuh miring ke bawah, mirip dengan gaya Kengai, namun lebih lemah dan lebih ringan.
  27. Kengai: Gaya bonsai yang menggambarkan pohon yang tumbuh menuruni tebing atau lereng curam, dengan batang utama melengkung ke bawah.
  28. Kokedama: Gaya bonsai tanpa pot, di mana akar dikemas dengan bola tanah yang diperkuat oleh lumut.
  29. Koto: Gaya bonsai dengan cabang yang berliku dan menyilang, menciptakan kesan pohon yang lebih tua dan alami.
  30. Kusamono: Jenis tanaman miniatur yang ditanam dalam pot kecil dan dipajang bersama bonsai dalam pameran.
  31. Kusamono: Tanaman miniatur lainnya yang sering ditanam dalam pot kecil dan dipajang bersama bonsai dalam pameran, sering kali mencakup tumbuhan herbal dan rumput.
  32. Kusari-gama: Teknik pengikatan pohon bonsai ke batu atau objek lain untuk menciptakan tampilan yang unik dan dramatis.
  33. Mame: Kategori bonsai yang sangat kecil, biasanya hanya beberapa inci tingginya.
  34. Mochikomi: Teknik membentuk batang dan cabang dengan cara memutar dan membengkokkan bagian kayu saat masih muda untuk mencapai bentuk yang diinginkan.
  35. Moyogi Moyohgi atau Yose-moyogi: Gaya bonsai dengan bentuk batang yang berliku dan sinuous, dengan cabang-cabang yang ditempatkan dengan cermat untuk menciptakan kesan alami.
  36. Moyogi: Gaya bonsai yang memiliki bentuk batang yang sinuous (berliku-liku) dan alami, sering kali dengan cabang yang tersebar merata di sepanjang batang.
  37. Neagari: Stil bonsai di mana akar pohon terlihat di permukaan tanah dan memiliki karakteristik akar yang menarik.
  38. Nebari: Istilah yang merujuk pada akar permukaan bonsai yang terlihat di atas tanah, menciptakan kesan kuat dan stabil.
  39. Netsuranari: Teknik membentuk cabang dengan menggabungkan dua cabang atau lebih menjadi satu cabang yang lebih kuat.
  40. Omono: Kategori bonsai yang lebih besar, dengan tinggi sekitar 35 hingga 75 cm.
  41. Saba-miki: Jenis bonsai dengan batang yang dibelah dan dikupas kulitnya, namun tidak sepenuhnya terbuka.
  42. Sabamiki: Efek batang yang dibelah dengan sengaja, menciptakan tampilan alami seperti pohon yang pernah terkena petir atau terkoyak.
  43. Sekijoju: Bonsai yang ditanam di atas batu atau tebing, menciptakan kesan pohon yang tumbuh di lingkungan alami yang keras.
  44. Shakan: Gaya bonsai dengan batang miring ke samping, menunjukkan efek pohon yang tumbuh di daerah berangin atau bergelombang.
  45. Shari: Efek pohon yang memiliki bagian batang yang dikupas kulitnya untuk menampilkan tekstur kayu yang menarik dan memberi kesan pohon tua.
  46. Sharimiki Bonsai: Jenis bonsai dengan batang yang dikupas kulitnya dan memiliki sebagian besar batang terbuka.
  47. Sharimiki: Efek batang yang dikupas kulitnya, tetapi tidak sepenuhnya terbuka, menciptakan tampilan pohon yang tua dan penuh karakter.
  48. Shitakusa: Tanaman kecil atau lumut yang ditempatkan di bawah bonsai dalam pot selama pameran untuk menambahkan estetika dan kesan alami.
  49. Shohaku: Gaya bonsai yang menampilkan pohon dengan cabang-cabang yang jarang dan terpisah, menciptakan kesan elegan dan sederhana.
  50. Shohin: Kategori bonsai yang kecil, dengan tinggi sekitar 15 hingga 20 cm.
  51. Soju: Gaya bonsai yang menampilkan pohon dengan batang yang pendek dan kokoh, sering kali digunakan untuk jenis pohon yang lebih tua.
  52. Tanuki: Teknik dalam bonsai di mana pohon mati atau cabang lain disambungkan ke pohon hidup untuk menciptakan kesan pohon tua dan berkarakter.
  53. Tembusu: Jenis pohon yang sering digunakan dalam bonsai, memiliki daun kecil dan batang yang mengalami pengelupasan kulit.
  54. Tsuga: Jenis pohon cemara yang sering digunakan dalam bonsai, memiliki jarum daun kecil dan tumbuh dengan baik di iklim sejuk.
  55. Uki: Teknik pemangkasan akar yang dilakukan dengan mengangkat pohon dari pot, memangkas akar yang tumbuh berlebihan, dan menanamnya kembali dalam pot baru.
  56. Ume: Jenis pohon prem yang populer dalam bonsai, dikenal karena bunga harum dan warna bunga yang beragam.
  57. Uro: Tumor atau benjolan yang terbentuk di batang atau akar pohon bonsai karena cedera atau infeksi, menambah karakteristik alami.
  58. Yose-ue Mori: Stil bonsai yang menggabungkan berbagai jenis pohon dalam satu pot, menciptakan tampilan hutan miniatur yang lebih alami.
  59. Yose-ue: Bonsai yang terdiri dari beberapa pohon dalam pot yang sama, menciptakan tampilan hutan miniatur.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *