Beberapa Istilah Mengenai Hiking

  1. Acclimatization: Proses penyesuaian tubuh dengan kondisi ketinggian yang lebih tinggi, terutama saat mendaki gunung tinggi.
  2. Alpine: Wilayah pegunungan yang berada di atas garis pohon, seringkali memiliki karakteristik batu dan salju.
  3. Backpacking: Kegiatan hiking jarak jauh dengan membawa ransel yang berisi semua peralatan yang diperlukan untuk bertahan hidup di alam terbuka.
  4. Basecamp: Area perkemahan utama yang digunakan sebagai titik awal untuk mendaki gunung atau menjelajahi wilayah tertentu.
  5. Bear Canister: Wadah khusus yang tahan banting dan tahan beruang untuk menyimpan makanan dan bau-bauan agar tidak menarik perhatian beruang saat berkemah di wilayah beruang.
  6. Bear Hang: Metode menggantung makanan dan bau-bauan dari pohon tinggi untuk mencegah beruang mencari makanan saat berkemah.
  7. Bivouac: Berkemah di tempat terbuka tanpa tenda, biasanya untuk pendekatan atau situasi darurat.
  8. Bushwhacking: Mendaki atau berjalan melalui vegetasi lebat tanpa adanya jalur yang jelas.
  9. Cairn: Tumpukan batu yang digunakan sebagai penanda jalur di medan terbuka.
  10. Campsite: Tempat yang ditandai atau disediakan khusus untuk mendirikan tenda dan berkemah selama hiking.
  11. Carabiner: Klip logam yang digunakan untuk mengaitkan tali atau peralatan pendakian.
  12. Crampons: Alat berbentuk sepatu yang dipasang di sepatu gunung untuk meningkatkan cengkeraman di permukaan es atau salju.
  13. Daypack: Tas kecil yang dipakai untuk membawa barang penting selama hiking satu hari.
  14. Diamox: Obat yang digunakan untuk mencegah atau mengurangi gejala soroche (pusing ketinggian) saat mendaki di ketinggian tinggi.
  15. Dry Bag: Tas khusus tahan air yang digunakan untuk melindungi barang-barang penting seperti pakaian dan makanan dari kelembaban dan hujan selama hiking.
  16. Elevation gain: Perbedaan ketinggian antara titik awal dan titik tertinggi di rute pendakian.
  17. Footbridge: Jembatan sederhana yang dibangun untuk menyeberangi sungai atau aliran air selama hiking.
  18. Footprint: Jejak atau dampak lingkungan yang ditinggalkan oleh pendaki, seperti tempat berkemah, yang harus dihindari dalam prinsip Leave No Trace.
  19. Fourteener: Gunung yang memiliki ketinggian lebih dari 14.000 kaki (sekitar 4.267 meter) di atas permukaan laut.
  20. Gaiter: Sarung kaki yang dipakai di atas sepatu untuk melindungi kaki dari air, salju, atau serpihan batu.
  21. Gunung: Puncak atau dataran tinggi yang lebih tinggi dari sekitarnya, sering menjadi tujuan hiking.
  22. Headlamp: Senter kepala yang digunakan untuk memberikan cahaya saat hiking di malam hari atau di dalam gua.
  23. Hiker Trash: Istilah akrab untuk menyebut para pendaki yang telah lama berada di jalur hiking dan memiliki penampilan kotor atau berantakan karena mendaki jarak jauh.
  24. Hiker’s High: Perasaan bahagia dan puas yang dialami oleh pendaki setelah mencapai puncak atau menyelesaikan pendakian yang menantang.
  25. Hiking: Kegiatan berjalan kaki di alam bebas atau gunung untuk rekreasi atau petualangan. Glosarium.org
  26. Hydration bladder: Kantong air khusus yang digunakan untuk menyimpan air dalam ransel dan memudahkan minum selama hiking.
  27. Hypothermia: Kondisi tubuh yang mengalami penurunan suhu drastis karena paparan dingin berlebihan.
  28. Hypoxic Zone: Daerah di ketinggian tinggi di mana kandungan oksigen dalam udara lebih rendah, membuat pernapasan menjadi lebih sulit.
  29. Jalur pendakian: Rute atau jalan yang telah ditandai untuk mencapai puncak gunung.
  30. Leave No Trace (LNT): Prinsip etika hiking yang menekankan pentingnya tidak meninggalkan jejak sampah atau kerusakan lingkungan selama pendakian.
  31. Leave No Trace: Prinsip untuk meninggalkan sedikit atau tidak ada jejak sampah atau dampak lingkungan selama hiking.
  32. Leki Poles: Tongkat pendakian yang dapat disesuaikan tingginya, membantu menopang berat tubuh dan memberikan keseimbangan selama hiking.
  33. Marka jalan: Tanda atau penanda di jalur pendakian untuk membantu pendaki mengikuti rute dengan benar.
  34. Navigasi: Keterampilan menentukan arah dan posisi saat hiking menggunakan peta, kompas, dan alat navigasi lainnya.
  35. Overland: Mendaki atau berjalan di daerah terbuka tanpa adanya jalur pendakian yang jelas.
  36. Pos pendakian: Tempat beristirahat atau berkemah yang disediakan di jalur pendakian.
  37. Puncak: Titik tertinggi pada gunung atau bukit yang sering menjadi tujuan utama para pendaki.
  38. Ransel: Tas yang dipakai di punggung untuk membawa peralatan dan kebutuhan selama hiking.
  39. Scrambling: Mendaki bagian curam dari gunung atau batu tanpa menggunakan peralatan teknis, tetapi memerlukan keterampilan dan kehati-hatian.
  40. Scree: Curahan kerikil atau batu-batu kecil yang menutupi lereng gunung dan bisa menjadi medan yang menantang untuk didaki.
  41. Shelter: Tempat berlindung sementara, seperti pondok atau tenda, untuk melindungi pendaki dari cuaca buruk.
  42. Slackpacking: Mendaki dengan membawa beban yang sangat ringan atau tanpa membawa ransel sama sekali.
  43. Summit bid: Upaya mencapai puncak gunung, seringkali pada saat-saat akhir mendekati puncak.
  44. Summit Fever: Keinginan yang kuat untuk mencapai puncak gunung, kadang-kadang mengabaikan faktor keselamatan dan kesehatan.
  45. Sunrise hike: Pendakian yang dimulai di pagi hari untuk mencapai puncak sebelum matahari terbit.
  46. Switchback: Tikungan tajam yang sering digunakan di jalur pendakian untuk mengurangi kemiringan curam.
  47. Tali pendakian: Tali kuat yang digunakan untuk tujuan keamanan, seperti mengikat diri pada gunung batu atau pendakian teknis.
  48. Tarp Shelter: Alternatif tenda yang ringan berupa kain besar yang digunakan untuk melindungi dari cuaca selama berkemah.
  49. Thru-hike: Mendaki seluruh jalur pendakian atau jalur hiking dari titik awal hingga titik akhir.
  50. Topografi: Deskripsi atau peta bentuk permukaan tanah, yang mencakup kontur dan elevasi.
  51. Trail Angel: Individu atau kelompok sukarelawan yang memberikan bantuan, termasuk air, makanan, atau transportasi, kepada pendaki di jalur hiking.
  52. Trail Crew: Kelompok sukarelawan yang bekerja untuk memelihara, memperbaiki, atau membuka jalur pendakian.
  53. Trail Magic: Kejutan atau bantuan tak terduga dari orang asing atau penduduk setempat kepada pendaki, seperti makanan, minuman, atau transportasi.
  54. Trail Mix: Campuran makanan ringan, seperti kacang, kismis, dan cokelat, yang sering dibawa sebagai camilan selama hiking.
  55. Trail register: Buku atau kotak yang berisi daftar nama-nama pendaki sebelum memulai pendakian, untuk tujuan keamanan dan pemantauan.
  56. Trailblazing: Membuka jalur baru di daerah yang belum memiliki jalur pendakian.
  57. Trailhead: Titik awal resmi suatu jalur pendakian di gunung atau taman nasional.
  58. Trekking: Aktivitas berjalan kaki jarak jauh di alam bebas, termasuk perjalanan multi-hari dengan membawa peralatan dan logistik.
  59. Via Ferrata: Jalur pendakian yang dilengkapi dengan tali pengaman, jembatan gantung, dan pegangan logam untuk membantu pendaki melintasi medan sulit.
  60. Water source: Sumber air, seperti sungai, mata air, atau kolam, yang penting untuk mengisi ulang persediaan air selama hiking.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *